Home » » Pembentukan Bonsai

Pembentukan Bonsai

Ficus benyamina.  Salah satu syarat bonsai yang baik adalah berbentuk indah dan alami. Indah artinya bonsai tersebut dapat memperlihatkan keharmonisan keseluruhan bagian tanaman dan keserasian dengan potnya. Alami artinya bentuk bonsai tersebut tidak menyimpang dari bentuk pohon aslinya di alam bebas. Secara umum bonsai berbentuk segi tiga asimetris.

Ada lima gaya dasar bonsai :
Tegak lurus (chokkan)
Tegak berliku (tachiki)
Miring (shakan)
Setengah menggantung (han kengai)
Menggantung (kengai)

Selain lima gaya dasar, masih ada gaya lain yang merupakan perkembangan dari kelima gaya dasar tersebut antara lain :
Sapu terbalik (hokizukuri)
Tertiup angin (pukinagashi)
Terpelintir (nejikan)
Tumbuh di batu (ishizuki)
Mencengkram batu
Menonjolkan akar (neagari)
Cabang merunduk (shidarezukuri)
Bebas (bunjin)
Tumbuh dari batang (ikadabuki)
Akar terjalin (netsunagari)

Untuk menjadikan bonsai berbentuk indah dan alami perlu dilakukan pembentukan bonsai (training) yang meliputi :
- Pengaturan cabang, ranting dan anak ranting.
- Pengawatan.
- Perundukan dengan ikatan tali.
- Pemangkasan batang, cabang, ranting, daun atau tunas daun.
- Koreksi bonsai

Pengaturan Cabang
Untuk bonsai dengan gaya dasar tegak, tegak berliku dan miring, pengaturan cabang adalah sebagai berikut :
Untuk bonsai dengan gaya dasar miring, cabang pertama arahnya berlawanan dengan kemiringan batang. Jarak antar cabang sebaiknya tidak merata, renggang pada bagian bawah dan makin keatas makin rapat.

Pengawatan
Pengawatan dilakukan untuk membantu pembentukan (membetulkan lekukan atau arah) batang, cabang atau ranting. Kawat yang dipakai adalah kawat tembaga atau aluminium karena tidak berkarat sehingga tidak meracuni tanaman. Besar kawat yang dipakai sekitar sepertiga dari besar batang, cabang atau ranting yang dililit. Kalau terpaksa bisa menggunakan 2 buah kawat sekalogus asal antar kawat tidak saling menindih. Sudut lilitan kawat kira-kira 45 derajat dengan jarak yang relatif sama.

Ikatan Tali
Untuk membengkokkan cabang ke arah bawah selain dengan kawat dapat juga dengan tarikan tali (tali rafia). ikatkan salah satu ujung tali ke cabang yang akan ditarik kebawah dan ujung tali satunya diikatkan ke pangkal batang, pangkal akar atau pot.

Pemotongan/Pemangkasan
Pemotongan dimaksudkan untuk memberi bentuk pada bonsai dengan membuang atau memendekkan batang, cabang atau ranting.
Untuk pemotongan (pembuangan) cabang sebaiknya pada pangkal cabang tersebut dipotong datar (tidak menyisakan bekas cabang) atau agak melengkung ke dalam batang agar luka bekas potongan cepat tertutup kulit batang. Begitu juga dengan pemotongan ranting pada cabang.
Pada pemendekan cabang atau ranting, pemotongan dilakukan miring dengan luka potongan menghadap ke atas agar luka potongan cepat kering dan menutup.
Pembuangan tunas daun sebaiknya dilakukan secepat mungkin sebelum daun muda terbentuk agar tidak terlalu banyak energi yang terbuang akibat pemotongan tersebut. Tujuan pembuangan tunas atau daun muda adalah menghindari terbentuknya cabang atau ranting yang tidak diperlukan. Khusus pada pengurangan daun pada salah satu cabang atau ranting adalah untuk menyeimbangkan ukuran cabang terhadap batang atau ukuran ranting terhadap cabang. Biasanya makin banyak daun pada canang maka pertumbuhan membesar cabang tersebut lebih cepat dibandingkan dengan cabang yang daunnya sedikit, jadi perbanyaklah daun pada cabang/ranting yang akan diperbesar ukurannya dan sebaliknya kurangi daun pada cabang/ranting yang ukurannya melebihi standar. Ukuran yang baik bagi cabang adalah sepertiga dari ukuran batang dimana cabang tersebut berada.

Koreksi
Koreksi adalah penyempurnaan bentuk bonsai (atau bakalan bonsai) yang sudah terlanjur salah.
Beberapa kesalahan tersebut dapat dilihat pada gambar :
A. Kepala terpotong. Peliharalah satu tunas yang tumbuh dekat kepala menghadap ke muka, setelah cukup kuat bengkokkan dengan kawat ke atas.
B. Cabang lebih besar dari batang. Dibuang saja atau dikupas kulitnya dan dimatikan (jin) lalu dikecilkan ukurannya dan diawetkan dengan larutan kapur dan belerang.
C. Cabang menyilang. Dibuang tau dilakukan pengawatan untuk merubah arah.
D. Cabang tumbuh pada ketinggian yang sama. Buang salah satunya.
E. Cabang tumbuh membentuk lingkaran. Buang dan tinggalkan salah satunya.
F. Canag tumbuh ke arah depan. Dibuang atau dirubah arah dengan kawat. Kalua ukurannya sudah besar buang dan buat lubang/rongga pada batangnya (uro).
G. Cabang tumbuh ke atas. Bengkokkan dengan pengawatan atau tali.
H. Cabang menggantung ke bawah. Bengkokkan ke arah yang benar dengan pengawatan.
I. Cabang saling berkaitan. Buang sebagian atau bengkokkan ke arah yang benar dengan pengawatan.

8 komentar:

  1. salam kenal juga yahhhh...blognya bagus banget.Top markotop..


    enny

    ReplyDelete
  2. hai...
    salam knl juga...
    nice blog...

    ReplyDelete
  3. wah bagus sekali artikelnya, hebat banget.

    ReplyDelete
  4. kira2 berapa lama proses biar jadi tanaman bonsai yang menggoda gan ??? hahaha

    ReplyDelete
  5. tenks artikelnya...
    saya penggemar bonsai dari Maumere, Flores NTT
    mau tanya ni bang...kapur yang dipakai buat campuran belerang untuk bonsai kapur apa di pakai ?
    kapur labur ? kapur sirih atau kapur tulis ?
    tenks sebelumnya...

    ReplyDelete
  6. aku pakai kapur sirih campur belerang, direbus, lalu didiamkan, ambil bagian atasnya, endapannya dibuang.

    ReplyDelete





Google PageRank Checker